Ada satu hal yang semakin saya pikirkan setelah belajar tentang keselamatan dan kelahiran baru: apa sebenarnya yang dimaksud dengan “lahir baru” ? Saya pernah melihat bagaimana istilah lahir baru digunakan seolah-olah sebagai sebuah status identitas: “Saya sudah lahir baru.” Seakan-akan kalimat tersebut sudah cukup untuk menjelaskan siapa seseorang, bagaimana kualitas imannya, bahkan bagaimana orang lain seharusnya memandang perilakunya. Padahal, jika kita kembali ke Alkitab, kelahiran baru bukanlah sekedar label yang kita tempelkan pada diri kita sendiri. Yesus berkata kepada Nikodemus,
“Sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah” [Yohanes 3:3]
Artinya, kelahiran baru merupakan sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan orang percaya. Namun, pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana kehidupan seseorang setelah ia dilahirkan kembali? Apakah ia langsung menjadi manusia paling sempurna? IMHO, tidak!
Lahir baru bukan berarti langsung sempurna!
Seseorang yang percaya kepada Kristus tidak tiba-tiba kehilangan seluruh kelemahan, luka, kebiasaan buruk, atau pergumulannya. Kelahiran baru bukan tombol “klik → lahir baru → langsung sempurna.” Kehidupan manusia jauh lebih kompleks dari itu. Seseorang dapat sungguh-sungguh percaya kepada Kristus, namun masih membutuhkan proses panjang untuk meninggalkan pola hidup yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Paulus sendiri berkata:
“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya…” [Filipi 3:12]
Kalau Paulus sendiri berbicara mengenai proses mengejar dan bertumbuh, rasanya kita perlu berhati-hati ketika berasumsi bahwa orang yang sudah lahir baru seharusnya langsung menjadi manusia yang sempurna. Ada orang yang mengalami perubahan drastis, tetapi ada pula yang berubah perlahan-lahan. Ada pola kehidupan yang baru disadari setelah bertahun-tahun, dan ada bagian-bagian diri yang Tuhan tunjukkan satu demi satu sepanjang perjalanan. Oleh karena itu, pertumbuhan rohani tidak seharusnya disamakan dengan kesempurnaan instan.
Lahir baru bukan berarti tidak pernah mengalami pergumulan.
Menjadi orang percaya juga tidak membuat seseorang kebal terhadap penderitaan, kehilangan, tekanan hidup, konflik keluarga, trauma, kelelahan, atau pergumulan emosional. Alkitab sendiri penuh dengan kisah manusia yang mencintai Tuhan tetapi mengalami penderitaan yang sangat berat. Mazmur, misalnya, tidak hanya berisi pujian. Ada pula ketakutan, ketakutan, kebingungan, dan pertanyaan kepada Tuhan. Daud bahkan berkata:
“Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus?” [Mazmur 13:2]
Ayub mengalami penderitaan yang luar biasa, sementara Elia juga pernah mengalami kelelahan dan keputusasaan yang mendalam. Oleh karena itu, ketika seseorang mengalami pergumulan emosional lalu langsung disimpulkan, “Berarti dia belum lahir baru,” menurut saya itu adalah kesimpulan yang terlalu sederhana.
Pergumulan tidak otomatis membuktikan ketiadaan iman. Demikian pula, kondisi mental seseorang tidak dapat dijadikan alat ukur sederhana untuk menentukan apakah ia benar-benar milik Kristus atau tidak. Seseorang dapat mencintai Tuhan dan tetap membutuhkan bantuan, konseling, komunitas yang sehat, bahkan bantuan profesional.
Iman dan proses pemulihan tidak perlu dipermasalahkan!
Lalu, apa yang membedakan kehidupan orang yang lahir baru? Kalau lahir baru bukan kesempurnaan, lalu apa yang sebenarnya kita lihat? Jawabannya tentu saja bukan sekadar pertunjukan rohani, melainkan arah kehidupan dan buah yang perlahan muncul. Yesus berkata:
“Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” [Matius 7:20]
Buah kehidupan tidak berarti seseorang harus selalu terlihat lembut, tersenyum, tidak pernah marah, atau selalu mempunyai jawaban rohani untuk segala sesuatu. Buah bisa terlihat jauh lebih sederhana: ketika salah, ia belajar mengakui kesalahan; ketika menyakiti orang, ia bersedia meminta maaf; ketika ditegur, ia tidak selalu menyerang balik; ketika menemukan kesalahan dalam dirinya, ia ingin memahami; ketika memiliki kuasa, ia tidak menggunakannya untuk menindas; dan ketika berkonflik, ia berusaha mencari kebenaran, bukan sekedar memenangkan dirinya sendiri. Bahkan ketika belum mampu berubah, ia cukup rendah hati untuk berkata, “Saya masih belajar.” Justru hal-hal seperti inilah yang sering lebih bermakna daripada penampilan rohani.
Buah bukan berarti pertunjukan di depan umum.
Ada perbedaan besar antara buah kehidupan dan citra rohani. Seseorang bisa sangat aktif di gereja, fasih berbicara tentang Alkitab, rajin membagikan ayat di media sosial, dan terlihat sangat lembut di depan banyak orang. Tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana ia memperlakukan orang ketika tidak ada yang melihatnya? Bagaimana cara memperlakukan pasangan, anak, orang tua, menantu, atau orang yang tidak memiliki jabatan dan kekuasaan? Bagaimana dia memperlakukan seseorang yang berbeda pendapat dengannya? Dan yang paling sederhana: apa yang terjadi ketika ia salah? Justru di situlah karakter seseorang paling terlihat.
Yesus bahkan mengkritik bentuk kesalehan yang hanya tampak di luar:
“Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh dengan kemunafikan dan kedurjanaan.” [Matius 23:28]
Ayat ini tentu tidak berarti setiap orang yang terlihat baik sedang berpura-pura. Namun, ia mengingatkan kita bahwa penampilan religius tidak selalu identik dengan transformasi hati.
Kemudian mengenai konflik. Saya pikir, konflik adalah salah satu tempat paling nyata untuk melihat bagaimana seseorang sedang bertumbuh. Bukan berarti orang yang lahir baru tidak boleh marah atau terluka. Bukan pula berarti orang Kristen harus selalu diam agar terlihat “penuh kasih”. Paulus berkata:
“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa; janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu.” [Efesus 4:26]
Artinya, perasaan marah tidak otomatis membuat seseorang berdosa. Yang penting adalah apa yang kita lakukan dengan kemarahan tersebut. Kita bisa terluka tanpa memfitnah, marah tanpa menghancurkan orang lain, dan mengatakan bahwa sesuatu itu salah tanpa membenci orangnya. Kita juga dapat mengampuni tanpa berpura-pura bahwa kesalahan tidak pernah terjadi. Mengampuni tidak selalu berarti menghapus batasan. Mengasihi juga tidak berarti membiarkan seseorang terus menyakiti kita.
Kasih tidak sama dengan membiarkan kesalahan!
Ada anggapan bahwa jika kita mencintai seseorang, kita harus selalu membelanya. Padahal tidak demikian. Kasih justru terkadang membutuhkan keberanian untuk mengatakan, “Apa yang kamu lakukan itu salah.” Yesus berkata:
“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata.” [Matius 18:15]
Jadi, menegur tidak otomatis berarti tidak mencintai. Sebaliknya, membela seseorang mati-matian meskipun ia melakukan kesalahan juga belum tentu merupakan kasih. Dalam keluarga, misalnya, orang tua yang terus menerus menutupi kesalahan anak mungkin merasa sedang melindungi anaknya. Namun, perlindungan yang tidak disertai tanggung jawab dapat berubah menjadi memungkinkan: pola yang salah terus berlangsung karena orang tersebut tidak pernah benar-benar menghadapi konsekuensi dari tindakannya. Kasih membutuhkan kebenaran, dan kebenaran membutuhkan kasih.
Paulus menyebutnya sebagai “melakukan yang benar di dalam kasih.” [Efesus 4:15]
Bukan kebenaran tanpa kasih, tetapi juga bukan kasih yang memberikan kebenaran. Selanjutnya, bagaimana seharusnya keluarga yang mengaku lahir baru menghadapi konflik?
Keluarga Kristen tidak harus menjadi keluarga yang tidak pernah mengalami konflik. Yang lebih penting adalah bagaimana konflik itu terselesaikan. Ketika seorang anak melakukan kesalahan, orang tua seharusnya tetap berkata, “Kami sayang, tetapi tindakanmu salah.” Ketika anggota keluarga terluka, mereka seharusnya bersedia mendengarkan. Ketika dua pihak memiliki cerita yang berbeda, mereka seharusnya mencari fakta sebelum menentukan siapa yang salah.
Kedewasaan rohani dalam lingkup keluarga justru terlihat ketika keluarga mampu menghadapi konflik tanpa memutarbalikkan keadaan, menutupi kesalahan, atau menjadikan identitas rohani sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab.
“Keluarga yang sehat bukan keluarga yang tidak pernah memiliki masalah, melainkan keluarga yang mampu menghadapi masalah tanpa menghancurkan satu sama lain.”
Lahir baru juga berarti bersedia dikoreksi, bukan malah anti kritik! Salah satu hal penting dalam pertumbuhan rohani adalah kerendahan hati untuk menerima koreksi. Amsal berkata:
“Siapa yang mencintai didikan, mencintai pengetahuan, tetapi siapa yang membenci teguran adalah dungu.” [Amsal 12:1]
Tentu saja tidak semua kritik otomatis benar. Kita tetap membutuhkan hikmat untuk membedakan teguran yang membangun dari tuduhan yang tidak benar. Namun, ketika seseorang selalu merasa dirinya benar, selalu mempunyai alasan, selalu dapat menjelaskan mengapa kesalahan sebenarnya milik orang lain, dan tidak pernah mampu mengatakan “saya salah,” setidaknya ada sesuatu yang perlu diperiksa dalam dirinya. Bukan untuk menghakimi jaminan keselamatannya, tetapi untuk memeriksa buah kehidupannya sendiri. Paulus berkata:
“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman.” [2 Korintus 13:5]
Menarik bahwa perintahnya adalah “ujilah dirimu sendiri.” Ada panggilan untuk introspeksi, bukan kesibukan mengukur keselamatan orang lain dan tingkat lahir barunya.
Jangan jadikan lahir baru sebagai legitimasi!
Menurut hemat saya, jika istilah lahir baru menjadi berbahaya jika digunakan secara sembarangan. Kalimat “Saya sudah lahir baru” seharusnya tidak berubah menjadi, “Karena saya sudah lahir baru, maka saya pasti benar.” Apalagi menjadi, “Karena saya sudah lahir baru, maka apa pun yang saya lakukan harus dianggap benar.” Itu bukan lagi bukti iman. Itu sudah menjadi legitimasi diri!
Identitas rohani tidak boleh merugikan tanggung jawab moral. Seseorang tidak menjadi benar hanya karena memiliki jabatan di gereja, seorang pendeta, mengajar di sekolah Kristen, rajin menyebarkan ayat, atau mampu mengatakan bahwa dirinya sudah lahir baru. Identitas spiritual seharusnya justru membuat seseorang semakin rendah hati. Paulus berkata:
“Janganlah memikirkan dirimu sendiri lebih dari yang patut kamu pikirkan…” [Roma 12:3]
Tidak perlu repot membuktikan bahwa kita sudah lahir baru!
Lahir baru bukan berarti tidak pernah jatuh. Saya juga tidak ingin tulisan ini berubah menjadi tuntutan baru: “Jika kamu benar-benar lahir baru, kamu harus selalu menghasilkan buah yang sempurna.” Itu juga bisa menjadi bentuk legalisme baru. Orang percaya masih bisa jatuh, marah, iri, salah bicara, mengambil keputusan buruk, dan mengalami pergumulan yang panjang. Yang penting adalah apa yang terjadi setelah ia menyadari kesalahannya. Apakah ia mampu berkata, “Saya salah. Tuhan, tolong ubah saya,” atau justru menggunakan identitas rohaninya sebagai alasan bahwa ia tidak mungkin salah? Yang pertama menunjukkan kerendahan hati. Yang kedua menjadikan identitas rohani sebagai benteng.
Saya semakin memahami bahwa seseorang tidak perlu terus-menerus mengatakan, “Saya sudah lahir baru.” Bukan berarti kita harus menyembunyikan iman. Namun ada perbedaan antara seperlima tentang Kristus dan membangun citra tentang betapa rohaninya diri kita sendiri. Paulus berkata:
“Bukan kami yang memberitakan diri kami sendiri, tetapi Kristus Yesus sebagai Tuhan.” [2 Korintus 4:5]
Kalau Kristus memang sedang bekerja dalam hidup kita, mungkin kehidupan kita sendiri perlahan akan menjadi bukti. Bukan berarti kita tidak boleh berbicara tentang iman. Tetapi semakin kita memperoleh anugerah, mungkin semakin kita sadar bahwa tidak ada yang perlu kita banggakan dari diri kita sendiri. Yang seharusnya semakin besar bukan citra kita sebagai “orang yang sudah lahir baru,” melainkan kesaksian tentang Kristus yang sedang bekerja di dalam hidup kita.
Lalu, bagaimana mengenali buah kelahiran baru?
Seyogyanya tidak bertanya, “Apakah orang ini terlihat rohani?” Pertanyaan yang lebih sehat adalah: apakah arah hidupnya semakin bergerak kepada Kristus? Misalnya:
- Apakah ia semakin tidak mampu mengakui kesalahannya?
- Apakah saya bersedia menerima koreksi?
- Apakah ia belajar penyuisian?
- Apakah ia mampu meminta maaf?
- Apakah ia bertanggung jawab atas tindakannya?
- Apakah ia belajar mencintai tanpa harus mengendalikan?
- Apakah ia belajar mengampuni tanpa menyangkal kebenaran?
- Apakah ia memperlakukan orang yang lebih lemah dengan kasih sayang?
- Apakah ia semakin menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, bukan semakin membangun citra dirinya sendiri?
Bukan berarti seseorang harus sempurna dalam semua hal itu. Pertanyaannya adalah: Apakah ada pertumbuhan? Apakah ada perubahan arah?
Pada akhirnya, saya tidak ingin mengukur keselamatan orang lain berdasarkan 'legitimasi' lahir baru. Kita boleh melihat buah. Kita boleh memperhatikan perilaku. Kita dapat mengatakan bahwa suatu tindakan itu salah. Kita bahkan boleh menetapkan batasan ketika seseorang terus menerus menyakiti kita. Namun, kita tidak perlu mengambil alih posisi Tuhan dan berkata, “Dia pasti belum lahir baru,” atau “ Dia pasti tidak diselamatkan.” Kita tidak mengetahui hati manusia secara sempurna. Yesus berkata:
“Kenapa kamu melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidakkah kamu tahu?” [Matius 7:3]
Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki kebijaksanaan. Justru beberapa ayat kemudian Yesus berbicara tentang mengenal pohon dari buahnya. Artinya, kami dipanggil untuk membedakan, tetapi kebijaksanaan harus berjalan bersama kerendahan hati. Mungkin inilah yang akhirnya saya pahami: lahir baru bukan gelar. Lahir baru adalah kehidupan yang sedang terbentuk. Lahir baru adalah karya Allah; Keselamatan adalah anugerah! Iman bersandar pada Kristus. Buah adalah bukti kehidupan. Pertumbuhan adalah proses!
Dan kesempurnaan bukanlah sesuatu yang sudah kita miliki sekarang. Oleh karena itu, saya tidak ingin terlalu cepat berkata, “Saya sudah lahir baru, maka saya sudah menjadi orang yang baik.” Saya lebih nyaman berkata:
“Saya percaya kepada Kristus. Saya percaya kepada karya keselamatan-Nya. Dan sekarang saya sedang belajar untuk hidup semakin serupa dengan-Nya.”
Masih ada karakter yang harus dibentuk. Masih ada kebiasaan lama yang harus ditinggalkan. Masih ada dosa yang harus diakui. Masih ada luka yang harus ditanyakan. Masih ada orang yang mungkin perlu kita minta maaf. Dan mungkin akan ada bagian-bagian dalam diri kita yang baru Tuhan tunjukkan bertahun-tahun kemudian. Itu tidak membuat anugerah Tuhan menjadi kurang nyata. Justru di sanalah kita belajar bahwa hidup baru bukanlah pertunjukan kesempurnaan. Ia adalah perjalanan.
Dan kesaksian yang paling jujur bukanlah:
“Dengar, aku sudah sempurna karena aku lahir baru.”
“Lihatlah bagaimana Tuhan masih terus bekerja dalam diri saya.”
____________________